• Jl. Raya IX Sukamandi
  • (0260) 520157
  • [email protected]
Logo Logo
  • Beranda
  • Profil
    • Overview
    • Visi & Misi
    • Struktur Organisasi
    • Tugas & Fungsi
    • Pimpinan
    • Satuan Kerja
    • Sumber Daya Manusia
  • Informasi Publik
    • Portal PPID
    • Standar Layanan
      • Maklumat Layanan
      • Waktu dan Biaya Layanan
    • Prosedur Pelayanan
      • Prosedur Permohonan
      • Prosedur Pengajuan Keberatan dan Penyelesaian Sengketa
    • Regulasi
    • Agenda Kegiatan
    • Informasi Berkala
      • LHKPN
      • LHKASN
      • Rencana Strategis
      • DIPA
      • RKAKL/ POK
      • Laporan Kinerja
      • Capaian Kinerja
      • Laporan Keuangan
      • Laporan Realisasi Anggaran
      • Laporan Tahunan
      • Daftar Aset/BMN
    • Informasi Serta Merta
    • Informasi Setiap Saat
      • Daftar Informasi Publik
      • Standar Operasional Prosedur
      • Daftar Informasi Dikecualikan
      • Kerjasama
  • Publikasi
    • Buku
    • Pedum/ Juknis
    • Infografis
  • Reformasi Birokrasi
    • Manajemen Perubahan
    • Deregulasi Kebijakan
    • Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik
    • Penataan dan Penguatan Organisasi
    • Penataan Tata Laksana
    • Penataan Sistem Manajemen SDM
    • Penguatan Akuntabilitas
    • Penguatan Pengawasan
  • Layanan
Thumb
13 dilihat       27 Maret 2026

Hemat Air hingga 20%, Kementan Dorong Pengelolaan Air Sawah Hadapi Kemarau

Upaya efisiensi air menjadi kunci menghadapi musim kemarau yang kian tidak menentu. Kementerian Pertanian mendorong penerapan pengelolaan air sawah yang lebih hemat melalui metode Alternate Wetting and Drying (AWD), yang terbukti mampu mengurangi penggunaan air irigasi hingga 20 persen tanpa menurunkan produktivitas padi.

Teknologi ini menjadi bagian dari strategi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim, dengan fokus pada efisiensi penggunaan sumber daya air yang semakin terbatas. Melalui AWD, petani dapat mengatur pemberian air secara lebih terukur sehingga tanaman tetap tumbuh optimal meskipun dalam kondisi keterbatasan air.

Dalam beberapa kesempatan, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa pengelolaan air merupakan faktor penentu dalam menjaga keberlanjutan produksi pertanian, terutama di tengah ancaman kekeringan.

“Pengelolaan air menjadi faktor krusial dalam keberhasilan produksi pertanian. Ketersediaan air yang terencana dan efisien sangat menentukan dalam menekan risiko kekeringan serta menjaga produktivitas,” ujar Mentan Amran.

Sejalan dengan hal tersebut, Kepala BRMP, Fadjry Djufry, menyampaikan bahwa AWD merupakan inovasi yang dirancang untuk menjawab tantangan nyata di lapangan, khususnya saat musim kemarau.

“Teknologi Alternate Wetting and Drying (AWD) merupakan solusi adaptif dalam menghadapi keterbatasan air. Dengan pengaturan air yang terukur, petani dapat menjaga kondisi tanaman tetap optimal sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap penggenangan terus-menerus, sehingga lebih siap menghadapi risiko kekeringan,” ungkapnya dalam keterangan tertulis, Kamis (26/3).

Fadjry menambahkan bahwa AWD merupakan teknologi yang dikembangkan oleh International Rice Research Institute pada 2009, dan mulai diadaptasi di Indonesia oleh Kementerian Pertanian sejak 2013.

“Berdasarkan hasil pengujian selama enam musim tanam, melalui teknik AWD ini, kelangkaan air di lahan sawah dapat ditekan, bahkan dihindari. Teknologi ini dapat menghemat penggunaan air irigasi 17-20%.” ucapnya.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa penerapan AWD mampu menekan penggunaan air irigasi secara signifikan tanpa menurunkan produktivitas padi. Dalam kondisi tertentu, efisiensi ini bahkan membuka peluang perluasan layanan irigasi ke lahan lainnya.

“Selain itu, metode ini juga memberikan dampak positif terhadap lingkungan melalui perbaikan kondisi tanah dan penurunan emisi gas rumah kaca dari lahan sawah.” lanjut Fadjry.

Ali Pramono, analis dari BRMP Lingkungan Pertanian, menjelaskan bahwa penerapan AWD dilakukan dengan mengatur siklus pengairan berdasarkan kondisi kelembapan tanah, sehingga sawah tidak selalu dalam kondisi tergenang. Setelah fase penggenangan awal, air dibiarkan surut hingga batas tertentu sebelum diairi kembali.

“Pengamatan kondisi air dilakukan menggunakan alat sederhana berupa pipa paralon berdiameter 10-15 cm dengan panjang 30-100 cm yang dilubangi di semua sisinya dan dibungkus kain kassa kemudian dibenamkan hingga tersisa 10 cm – 20 cm di atas permukaan tanah. Pipa ini memiliki prinsip kerja seperti piezometer (alat ukur tekanan cairan-red) sederhana.” tuturnya.

Pipa ditempatkan di area yang mudah diakses, dekat pematang, agar memudahkan pemantauan kedalaman air yang mewakili kondisi rata-rata lahan.

“Pengairan kembali umumnya dilakukan ketika muka air di dalam pipa telah turun hingga kisaran 10–15 cm di bawah permukaan tanah, kemudian air diberikan kembali dalam jumlah terbatas hingga tinggi muka air 3-5 cm untuk menjaga kelembapan tanah.” tambah Ali.

Siklus ini dilakukan secara berulang, dengan penyesuaian terhadap kondisi lahan dan cuaca, serta tetap menjaga ketersediaan air pada fase kritis seperti pemupukan, penyiangan, hingga fase bunting-berbunga.

Menurut Ali, penerapan AWD tidak hanya meningkatkan efisiensi penggunaan air, tetapi juga memperbaiki kondisi perakaran dan struktur tanah sehingga tanaman lebih tahan terhadap cekaman kekeringan dan berpotensi meningkatkan hasil.

“AWD tidak sekadar menjadi teknik pengairan, tetapi juga bagian dari strategi mitigasi yang memperkuat ketahanan sistem produksi padi.” tutupnya.

Penerapan AWD menjadi bagian dari strategi climate smart agriculture yang menekankan efisiensi dan keberlanjutan, sekaligus menjaga produktivitas padi di tengah keterbatasan air pada musim kemarau.

Prev Next

- BBPSI Padi


Pencarian

Berita Terbaru

  • Thumb
    WFP: 45 Juta Orang Terancam Kelaparan, Indonesia Surplus Beras
    26 Mar 2026 - By BBPSI Padi
  • Thumb
    Hadapi Kemarau Lebih Awal, Kementan Dorong Pemanfaatan Varietas Padi Adaptif
    16 Mar 2026 - By BBPSI Padi
  • Thumb
    Prancis Apresiasi Capaian Ketahanan Pangan Indonesia, Siap Perkuat Kerja Sama Pertanian
    12 Mar 2026 - By BBPSI Padi
  • Thumb
    Koordinasi Terpusat di BRMP Provinsi, Kementan Perkuat Percepatan Program Strategis
    26 Feb 2026 - By BBPSI Padi

tags

AWD hemat air musim kemarau pengelolaan air

Kontak

(0260) 520157

[email protected]

Jl. Raya IX, Desa Sukamandi, Kecamatan Ciasem, Kabupaten Subang, Provinsi Jawa Barat

Kode Pos 41256

Whats App : 085756420179

www.padi.brmp.pertanian.go.id

© 2023 - 2026 Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Pertanian Tanaman Padi. All Right Reserved